Essai  

Rojulun Laa Yadri atas Silang Sengkarut Coronavirus

Membicarakan Corona memang tidak ada habisnya. Selain wacana-wacana yang beredar memberikan informasi mengenai virus Corona ini secara langsung sebagai ilmu biologi dan turunannya, penyakit yang timbul akibat Corona hingga menjadi epidemi bagi daerah asalnya yaitu Wuhan-Tiongkok sampai menjadi pandemi di seluruh negara di dunia serta dampak-dampak yang timbul akibat menjalarnya penyakit ini. Dunia seakan diporak-porandakan dengan adanya wabah ini, segala unsur kehidupan tersenggol, mulai dari pendidikan, bisnis, sosial, budaya, dan sebagainya.

Sebagai awam, saya tidak tahu persis secara presisi dan detail mengenai virus, apalagi sampai berpikiran bahwa apakah memang ada virus Corona ini? yang artinya kalau boleh disebut bahwa adanya pandemi ini merupakan sebuah desain konspirasi besar dunia, itu sudah jauh dari pikiran saya. Tidak sampai. Kalaupun benar tidak ada, kenapa dampaknya sangat terasa mulai dari daerah perkotaan sampai ke pelosok desa. Jadi, tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Diluar apakah adanya Corona disengaja atau tidak sengaja dibuat oleh kelompok manusia tertentu.

banner 325x300

Di tengah trauma Coronavirus yang semakin menggila ini, pemerintah Indonesia baik di tingkat nasional, provinsi, kabupaten hingga tingkat pemerintahan dan kelompok masyarakat paling kecil yatu RT, melakukan upaya-upaya tertentu untuk mencegah penyebaran virus lebih luas. Tentu kita bisa memahami dan berbaik sangka bahwa apa yang dilakukan pemerintah adalah demi kebaikan keberlangsungan hidup rakyat Indonesia tak terkecuali.

Berdasar pengetahuan saya mengenai Coronavirus yang sangat cethek, maka saya memutuskan untuk tidak terlalu mengomentari dari sisi biologis dan medis apalagi konspiratif. Terlebih di jaman trend media online yang memungkinkan setiap orang bersuara dan tidak ada pengendali kecuali dari kesadaran diri dan egoisme orang tersebut. Ada dua tingkat bersosial media melalui online, yaitu orang yang berperan sebagai pemantik, menjadi produsen opini murni maupun informasi fakta yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Yang kedua adalah perespon atas opini tersebut, baik melalui like, comment, share maupun bentuk persetujuan yang lain. Keduanya mempunyai peran yang sama sebagai penyebar informasi dan efek menularnya secepat kilat, hitungan detik dapat mempengaruhi ratusan, ribuan bahkan jutaan pengguna media sosial online, apalagi orang yang diwakili sebuah akun mempunyai jutaan pengikut.

Banyak orang dari kalangan apapun di media online, berlomba-lomba untuk bersuara mengenai apapun yang sedang trending, demi eksistensi diri dan bertambahnya followers, karena akan berdampak pada jumlah pundi-pundi rupiah yang akan didapat. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ternyata kita bisa mendapatkan penghasilan melalui media online.

Dari silang sengkarut sebaran informasi apapun, dari siapapun, hendaknya kita mempunyai filter dan kontrol ego untuk menyaring informasi tersebut apakah valid atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Keegoisan kita juga perlu diredam untuk tidak mudah membagikan sebuah informasi kepada orang lain, baik share di Facebook, di grup Whatsapp keluarga, alumni sekolah maupun organisasi.

Teringat pandangan Imam al-Ghazali bahwa ada empat golongan manusia.

Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), dan dia Tahu kalau dirinya Tahu). Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu). Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang tidak tahu, tapi dia tahu bahwa dirinya tidak tahu). Keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang yang Tidak Tahu (tidak berilmu), dan dia Tidak Tahu kalau dirinya Tidak Tahu).

Atas informasi Coronavirus yang semrawut di jagat maya maupun menyebar secara offline, saya adalah golongan yang tidak tahu dan saya sadar bahwa saya tidak tahu. Jadi, saya cukup diam.

Maka, dalam hal Coronavirus ini, masuk ke dalam golongan manusia seperti apa Anda ini?

banner 325x300

Responses (2)

  1. Sepakat dengan empat kategori tersebut.namun sejatinya kita bisa menentukan pilihan…mau menjadi tahu atau tidak tahu…itulah landasan bertindak…bravo

  2. Untuk menjadi tahu butuh proses belajar dan menggali informasi. Sangat bijak ketika mengetahui sesuatu hendaknya secara menyeluruh dan detail. Pribadi saya, untuk menggali apa yang sebenar-benarnya mengenai Coronavirus sepertinya bukan prioritas pengetahuan yang perlu saya dalami. Jadi, yaa ngikut para ahli saja, meskipun tidak serta merta langsung setuju dan membagikannya ke khalayak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *