Essai  

Belajar Pasrah dan Berproses Pada Angkringan

Bagaimana kita tahu siapa dan kapan seseorang mampir di angkringan pinggir jalan yang sebagian besar membuka lapaknya menjelang malam hingga menjelang pagi? Bahkan ada yang membuka lapaknya hingga 24 jam nonstop. Betapa kita sangat pasrah terhadap cara Allah menggerakkan orang untuk datang ke sebuah warung kecil bertenda biru dengan makanan khasnya yaitu nasi kucing. Ada pula beberapa cemilan, gorengan, hingga minuman teh hangat dan kopi hitamnya.
Apa motivasi orang untuk datang melahap nasi kucing yang hanya mampir di kerongkongan dan tak pernah sampai ke lambung walaupun setelah digelontor dengan teh manis hangat atau jahe susu. Kalau berniat mengisi perut, pastilah memilih mampir di warung pecel lele atau nasi goreng. Kalau mau ngeteh anget atau ngopi, bisa juga di rumah sambil bermain game online.
Apa yang diharapkan penjaja angkringan di tengah-tengah gelapnya malam? Apa ilmu marketing yang diterapkan untuk mengiklankan usaha pada saat orang-orang memilih untuk terlelap tidur? Apa target profit secara bisnis dengan usaha yang tidak bisa dipastikan dan justru hanya mendekati mungkin untuk mendapatkan income.
Bisa dipastikan kalah jika kita berlomba untuk pasrah dan berserah diri dibanding para pelapak angkringan. Mereka sangat menggantungkan hatinya terhadap daya marketing Allah. Mereka juga sangat menerima seberapapun hasil dari usahanya.
Sabar dan syukur yang merupakan dua kunci utama hidup selalu digenggam dan dipegang sangat erat. Kunci hidup tersebut yang tak pernah absen diterapkan dalam hidup seorang penjaja angkringan, karena dua hal tersebut yang memang menjadi pengetuk rasa berserah diri di dalam hatinya. Bagaimana mereka sabar menanti pembeli datang, sabar ketika lapaknya sepi pembeli. Dengan sabar itulah mereka bersyukur seberapa banyak pembeli datang, seberapa banyak hasil yang didapat.
Bahkan kita bisa sangat belajar terhadap pandangan mereka soal kehidupan. Mereka tidak pernah menarget hasil. Apa yang menjadi fokusnya adalah menikmati proses yang terjadi.
Manusia hanya diwajibkan untuk terus berproses, berijtihad, menikmati dan sungguh-sungguh dalam menjalankannya. Mengenai hasil, Allah mempunyai rumusan tersendiri tergantung dari bagaimana kita menjalankan proses tersebut. Bahkan lebih banyak persentase kemurahan Allah daripada apa yang menjadi sebab-sebab yang kita lalui.
banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *