Jejaring Santri Syaikhona Kholil di Magelang (Bagian 2)

oleh Abdul Aziz Idris Abdan
Kalau kakeknya KR. Kramayudha mewujudkan bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang diterapkan penjajah Belanda dengan melepaskan jabatan sebagai bupati Banjarnegara dan mengasingkan diri dipelosok dusun untuk sebuah bentuk perlawanan yang lain maka KH. Bakri meneruskan perlawanan ini dengan perlawanan etik dengan mendirikan pondok pesantren sebagaimana guru beliau Syaikhona Kholil yang mendirikan dua pesantren Jangkebuan dan Kademangan. Mendirikan pesantren merupakan cara efektif dalam kegiatan syiar Islam dan membela hak-hak dasar bagi masyarakat di bidang pendidikan. 
Dan yang menarik adalah KH. Bakri bersama istri beliau Ny. Hj. Artinah sedemikan perhatian dan gemati, sayang terhadap santri-santri, hingga hampir tiap hari Ny. Hj. Artinah menyediakan shodaqohan makanan ringan dan minuman untuk santri-santri. Bahkan di hari hari tertentu dimasakkan makanan untuk santri sebagai mayoran bersama. Untuk menyiapkan kader penerus beliau mengirimkan putra putra beliau KH. Ridwan, KH. Ali, KH.Mansur, KY, Nur Misbah ke pesantren dengan bekal yang terbilang cukup. Setiap bulan dibekali 5 rupiah setiap putranya ( padahal harga beras saat itu dalam 20 kg paling mahal 1 rupiah ).
banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *