Ads

Thoriqoh Jomblo'iyah Imam Nawawi

Banyak yang tidak menyangka bahwa ulama masyhur, yang banyak menuliskan karya ilmiah terkenal lebih memilih hidup menyendiri. Beliau adalah Abu Zakariyya Yahya ibn Sharaf al-Nawawi dan lebih dikenal dengan nama Imam Nawawi. Imam Nawawi lahir di desa Nawa, dekat dengan Kota Damaskus pada tahun 631 Hijriyah dan wafat pada 24 Rajab 676 Hijriyah.

Mungkin akan menjadi pedoman bagi para tuna-asmara alias jomblowan dan jomblowati bahwa Ulama sekaliber Imam Nawawi saja lebih memilih hidup menyendiri, karena baginya memiliki istri tidak lebih berarti dibanding dengan mengaji. Namun apa yang menjadi dasar beliau untuk tidak meneruskan gen keulamaannya?

Kesendirian Imam Nawawi ini dibukukan oleh Syeikh Abu Ghuddah, murid dan khodim dari Syeikh Zahid Kautsari yang merupakan mufti terakhir dari kekhalifahan Turki Utsmani dalam sebuah risalah yang berjudul Al Ulama Al Uzzab Alladhina Atsarul Ilma A'la Zawaj. Dalam risalah tersebut tidak hanya Imam Nawawi, juga disebutkan ulama yang lain, seperti Imam Dhahabi yang merupakan sejarawan handal, Imam Ibnu Jarir at-Thobari sejarawan terkemuka abad pertengahan, Imam Zamakhsary pakar nahwu dan bahasa yang beraliran muktazilah, dan ulama-ulama lainnya.

Kembali ke Imam Nawawi, beliau diakui sebagai Wali Qutub oleh Al Habib Umar bin Abdurrahman al-Athas yang menitip pesan kepada Syeikh Ali Baros (penyusun Ratib Al-Athas) untuk membaca kitab Minhaj karya Imam Nawawi. Beliau mengemukakan bahwa penulisnya adalah seorang Wali Qutub dan yang membacanya mendapat jaminan terbukanya pikiran.

Ketegasan prinsip Imam Nawawi termaktub pada kitab Al-Majmu' dari kitab Al-Muhadzzab di dalam muqoddimahnya. Imam Nawawi secara tegas menyatakan dukungan terhadap prinsip "kesendiriannya" dengan mengutip beberapa argumen dari para ulama, seperti Al-Khatib al-Bagdadi.

يستحب للطالب أن يكون عزبا ما أمكنه، لئلا يقطعه الاشتغال بحقوق الزوجة، والاهتمام بالمعيشة، عن إكمال طلب العلم.

Artinya, "Seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk menjomblo sebisa mungkin. Agar fokus belajarnya tidak terganggu oleh kesibukan rumah tangga dan repot mencari nafkah." (lihat Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, juz 1, hal. 35)

Termasuk juga mengutip ucapan dari seorang sufi, Ibrahim di Adham,

"من تعود أفخاذ النساء لم يفلح "

Artinya: "Barangsiapa yang disibukan dengan mulus paha para wanita, maka tidak akan bahagia." (Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, juz 1, hal. 35)

Juga ucapan seorang mujtahid mutlak yang berasal dari Kuffah, Sufyan at-Tsauri,

إذا تزوج الفقيه فقد ركب البحر، فإن ولد له فقد كسر به.

Artinya, "Ketika seorang fakih (orang yang menguasai ilmu agama) menikah, maka ia telah menaiki perahu mengarungi lautan. Ketika sudah memiliki anak, berarti telah ia hancurkan perahu itu." (Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, juz 1, hal. 35)

Analogi yang sangat menarik, ketika dikaitkan dengan sunnah Rasul dalam perintahnya untuk menikah dan memperbanyak keturunan, karena Rasulullah akan bangga dengan umatnya yang banyak, dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah No. 1846 dan dishahihkan Al Albani dalam silsilah Ash Shahihah No. 2383.

Namun jangan salah untuk memahami beliau, bahwa beliau tidak mengingkari anjuran menikah sebagai sunah Rasul. Dalam kitab Al Majmu' pada bagian bab nikah, secara tegas beliau tegas menyampaikan bahwa,

(أما الاحكام) فان النكاح مشروع بالكتاب والسنة كما أوردنا من نصوصهما وقد اختلف الفقهاء في كونه واجبا أو جائزا فمذهبنا جوازه

Artinya, "Terkait hukumnya, nikah telah disyari'atkan dalam al-Qur'an dan hadits sebagaimana telah kami paparkan teksnya masing-masing. Para fuqaha (ahli hukum Islam) berbeda pendapat, apakah nikah itu wajib, atau boleh. Kalau mazhab kami (Syafi'i), boleh." (lihat Al-Majmu' Syarah al-Muhadzzab, juz 17, hal. 202)

Imam Nawawi adalah termasuk orang yang tidak membutuhkan menikah, karena justru seandainya menikah menurut beliau, fokus dalam mengabdi untuk ilmu agama akan terganggu. Dan jelas bukan maqom kita, apalagi saya sebagai penulis untuk mengikuti jejak Imam Nawawi. Hanya sebagai pelajaran untuk para jomblowan-jomblowati dalam tirakatnya pada jalan kesendirian untuk lebih tekun dan sungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan bekal untuk hidup yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan.

Post a Comment

0 Comments