Ads

API = Energi + Bahan Bakar + Oksigen (Bag. 1)


Energi panas dalam diri manusia umumnya didapat dari kecenderungan yang dimiliki, bisa berupa apa yang diangankan, dirindukan, bisa juga dari rasa minder, bahkan ilmu sampai kebijaksanaan.

Bahan Bakar 1
Bahan bakar ini berbentuk kasar yang mengakibatkan api yang besar, berasap dan berkobar-kobar. Bahannya bisa berasal dari sifat iri, dengki, sombong, riya', takabbur. Hampir setiap orang mengaplikasikan pembakaran diri dengan sifat-sifat tersebut. Ada yang kemudian beralih ke bahan bakar lebih halus dengan kesadaran diri untuk menjadi orang yang lebih baik. Namun ada pula yang tetap berkutat dengan bahan bakar ini, biasanya yang masih suka menuruti hawa amarah dan kurang cukup bernafas tenang.

Bahan Bakar 2
Bahan bakar yang lebih lembut berupa rasa inferior, minder, kecil hati, tidak percaya diri dan lain sebagainya. Bahan bakar ini menghasilkan api yang lebih kecil dan tidak menentu arah dan tujuannya, mobat-mabit, seperti tertiup angin. Sebagian orang yang menggunakan bahan bakar ini agar terhindar dari sifat sombong dan keras kepala. Pilihan bahan bakar ini cenderung tidak menguntungkan, karena seseorang melakukan sesuatu dengan tekanan, dan lebih sering lari dari tanggungjawab hanya karena tidak percaya diri.

Bahan Bakar 3
Bahan bakar berupa gas dan bersifat lebih halus. Umumnya digunakan oleh orang yang cenderung memiliki ilmu, kebijaksanaan, kesabaran. Bahan bakar ini menghasilkan api yang lebih tenang dan konstan. Meskipun sifat-sifat keilmuan dan kebijaksanaan tampak mustahil menimbulkan api, namun kenyataannya banyak kobaran yang disulut oleh sifat-sifat tersebut.

Bahan bakar 1 dan 2 mempunyai karakter material dan meninggalkan jelaga. Berbeda dengan bahan bakar 3 yang lebih minim jelaga. Pembakaran 3 sering menjadi pola seseorang yang punya kekuatan pengendalian diri.

Bahan Bakar 4
Akhlak, pengabdian, kerelaan, pengorbanan menjadi bahan bakar yang menghasilkan api sangat tenang dan berwarna putih. Sifat-sifat tersebut sebenarnya tidak bisa dibakar, namun akumulasinya membentuk fusi seperti matahari. Penggumpalan energi yang seperti ini tidak banyak ditempuh, atau sulit ditempuh oleh manusia.

Post a Comment

0 Comments