Panitia Haram Menjual Bagian dari Hewan Qurban

Masih sering kita jumpai di masyarakat, panitia qurban di masjid-masjid maupun musholla yang mengira beberapa bagian hewan qurban dirasa tidak perlu dibagikan, dan mengira tidak ada orang yang mau menerimanya, sehingga mengambil jalan mudahnya saja untuk dijual. Bagian-bagian tersebut seperti kepala, kaki maupun kulit.

Mudohhi (orang yang berqurban), wakil mudohhi atau panitia qurban DILARANG menjual kulit, daging atau bagian lainnya dari hewan qurban. Tindakan menjual tersebut menjadikan TIDAK SAH-nya hewan tersebut sebagai qurban, sebab hanya akan menjadi sodaqoh biasa.

banner 325x300

Sabda Rasulullah SAW.:

    من باع جلد أضحيته فلا أضحية له) أي لا يحصل له الثواب الموعود للمضحي على أضحيته)

Artinya, “Barangsiapa yang menjual kulit qurbannya, maka tidak ada qurban bagi dirinya. Artinya dia tidak mendapat pahala yang dijanjikan kepada orang yang berqurban atas pengorbanannya,” (HR Hakim dalam kitab Faidhul Qadir, Maktabah Syamilah, juz 6, halaman 121)

Imam Nawawi mengatakan, berbagai macam teks redaksional dalam mazhab Syafi’i menyatakan bahwa menjual hewan qurban yang meliputi daging, kulit, tanduk, dan rambut, semuanya dilarang. Begitu pula menjadikannya sebagai upah para penjagal.

  واتفقت نصوص الشافعي والاصحاب على انه لا يجوز بيع شئ من الهدي والاضحية نذرا  كان أو تطوعا سواء في ذلك اللحم والشحم والجلد والقرن والصوف وغيره ولا يجوز جعل الجلد وغيره اجرة للجزار بل يتصدق به المضحي والمهدي أو يتخذ منه ما ينتفع بعينه كسقاء أو دلو أو خف وغير ذلك

Artinya, “Beragam redaksi tekstual madzhab Syafi’i dan para pengikutnya mengatakan, tidak boleh menjual apapun dari hadiah (al-hadyu) haji maupun qurban baik berupa nadzar atau yang sunah. (Pelarangan itu) baik berupa daging, lemak, tanduk, rambut dan sebagainya. Dan juga dilarang menjadikan kulit dan sebagainya itu untuk upah bagi tukang jagal. Akan tetapi (yang diperbolehkan) adalah seorang yang berqurban dan orang yang berhadiah menyedekahkannya atau juga boleh mengambilnya dengan dimanfaatkan barangnya seperti dibuat untuk kantung air atau timba, muzah (sejenis sepatu) dan sebagainya. (Lihat Imam Nawawi, Al-Majmu’, Maktabah Al-Irsyad, juz 8, halaman 397).

Jika terpaksa tidak ada yang mau memakan kulit tersebut, bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain seperti dibuat terbang, bedug, dan lain sebagainya.

Sebuah Solusi

Daging, kulit, bulu, kepala, jeroan atau bagian lainnya boleh dijual hanya oleh penerima daging qurban dari golongan fakir miskin.

Keterangan ini diungkapkan oleh Habib Abdurrahman Ba’alawi sebagai berikut:

      وللفقير التصرف في المأخوذ ولو بنحو بيع الْمُسْلَمِ لملكه ما يعطاه، بخلاف الغني فليس له نحو البيع بل له التصرف في المهدي له بنحو أكل وتصدق وضيافة ولو لغني، لأن غايته أنه كالمضحي نفسه، قاله في التحفة والنهاية

Artinya, “Bagi orang fakir boleh menggunakan (tasharruf) daging qurban yang ia terima meskipun untuk semisal menjualnya kepada pembeli, karena itu sudah menjadi miliknya atas barang yang ia terima. Berbeda dengan orang kaya. Ia tidak boleh melakukan semisal menjualnya, namun hanya boleh mentasharufkan pada daging yang telah dihadiahkan kepada dia untuk semacam dimakan, sedekah, sajian tamu meskipun kepada tamu orang kaya. Demikianlah yang dikatakan dalam kitab At-Tuhfah dan An-Nihayah. (Lihat Bughyatul Mustarsyidin, Darul Fikr, halaman 423).

Maka berikanlah kulit, kepala, kikil (kakii hewan) kepada kalangan fakir miskin, sebab mereka boleh menjualnya. Dan uang hasil penjualan sepenuhnya milik fakir/miskin tersebut, artinya tidak boleh ditarik lagi oleh panitia.

Penjelasan ini bersumber dari:

KH. Achmad Labib Asrori

  • Pengasuh PP. Irsyadul Mubtadi’ien, Tempursari Tempurejo Tempuran Magelang
  • Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Magelang
  • Ketua Umum MES Magelang Raya
banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *