Kenapa Tradisi Haul Harus Terus Dilestarikan?

Sebuah tradisi yang dilakukan pada umumnya umat Islam di Indonesia untuk memperingati hari meninggalnya seseorang dalam setiap setahun sekali, lazim disebut sebagai Haul. Dalam bahasa Arab, haul berarti setahun. Tujuan peringatan ini adalah untuk mendoakan ahli kubur agar semua amal ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. Biasanya haul dilakukan oleh keluarga ahli waris yang telah meninggal dunia atau para tokoh untuk meneladani jasa dan amal baik mereka.

Di beberapa daerah peringatan ini tidak harus tepat pada tanggal tertentu, meski daerah lain tentu sangat memperhatikan tanggal meninggalnya, baik dengan kalender masehi maupun kalender hijriyah. Waktu peringatan haul terkadang juga berdasar pertimbangan yang berhubungan dengan acara atau peringatan hari besar Islam.

banner 325x300

Untuk haul para tokoh maupun Kyai, terutama yang di wilayah pesantren biasanya dibarengkan dengan agenda pesantren seperti khataman, pertemuan wali santri, dan lain sebagainya. Banyak juga dari keluarga umum, peringatan haul dibarengkan dengan hari besar Islam, semisal Maulid Nabi, Syawalan, dll.

Tradisi haul ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW: Rasulullah berziarah ke makam Syuhada (orang-orang yang mati syahid) dalam perang Uhud dan makam keluarga Baqi’. Beliau mengucap salam dan mendoakan mereka atas amal-amal yang telah mereka kerjakan. (HR. Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan juga, yang diriwayatkan oleh Al-Wakidi bahwa Nabi Muhammad SAW mengunjungi makam para pahlawan perang Uhud setiap tahun. Jika telah sampai di Syi’ib (tempat makam mereka), Rasulullah agak keras berucap: Assalâmu’alaikum bimâ shabartum fani’ma uqbâ ad-dâr. (Semoga kalian selalu mendapat kesejahteraan ats kesabaran yang telah kalian lakukan. Sungguh akhirat adalah tempat yang paling nikmat). Abu Bakar, Umar dan Utsman juga malakukan hal yang serupa. (Dalam Najh al-Balâghah, hlm. 394-396)

Para ulama menyatakan bahwa peringatan haul ini tidak dilarang oleh agama, bahkan dianjurkan. Ibnu Hajar dalam Fatâwa al-Kubrâ Juz II hlm. 18 menjelaskan, para sahabat dan ulama tidak ada yang melarang peringatan haul sepanjang tidak ada yang meratapi mayyit atau ahli kubur sambil menangis. Peringatan haul sedianya diisi dengan menuturkan biorafi orang-orang yang alim dan saleh guna mendorong orang lain untuk meniru perbuatan mereka.

Di antara hikmah-hikmah peringatan haul ini utamanya menjadi penting bagi umat Islam untuk bersilaturahim satu sama lain, berdoa bersama dengan memantapkan diri untuk mengenang dan menjadikan tokoh yang di-haul-i sebagai teladan.

*Kutipan hadits dan qoul ulama dalam tulisan ini diambil dari buku “Tradisi Orang-Orang NU” yang ditulis oleh H. Munawwir Abdul Fattah yang telah ditashhih oleh KH. A. Muhith Abdul Fattah, KH Maghfoer Utsman, dan KH. Masdar Farid Mas’udi, Diterbitkan oleh Pustaka Pesantren, Yogyakarta: 2006.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *