Essai  

Seni Rakyat Topeng Ireng: Proses Kreatifitas, Penggugah Ekonomi dan Pemersatu Masyarakat

Seni merupakan sesuatu yang terus bergerak dan tidak statis. Sebuah tradisi yang turun-temurun dari nenek moyang mau tidak mau terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan gaya dan pola hidup masyarakat, serta perkembangan teknologi yang sangat pesat. Tak terkecuali kesenian berbasis kerakyatan, yang pelakunya adalah rakyat pada umumnya, dengan bermacam-macam profesi baik petani, pedagang, karyawan swasta bahkan pegawai pemerintahan. Tidak banyak dari mereka para pelaku kesenian kerakyatan yang mempunyai background akademik formal di bidang seni.

Topeng Ireng, salah satu kesenian kerakyatan yang berkembang di wilayah Magelang dan sekitarnya akhir-akhir ini menjadi trending di media sosial khususnya situs berbagi video, YouTube. Video yang diunggah, terutama yang melakukan siaran langsung mendapatkan ribuan penonton secara serentak. Ini menjadi menarik ketika kesenian rakyat dipadukan dengan alat yang bernama teknologi. Belum ada yang mengetahui, atau lebih tepatnya terputus sudah informasi mengenai asal-muasal kesenian rakyat topeng ireng ini berasal atau pertama kali diciptakan. Berdasar cerita yang berkembang di masyarakat, kesenian topeng ireng mulai berkembang di tengah masyarakat daerah lereng Gunung Merapi dan Merbabu pada tahun medio 1960-an.

banner 325x300

Pada masa itu, saat umat Islam membangun masjid atau musholla, ketika akan menaikkan mustoko (kubah) dan diletakkan ke puncak tertinggi bangunan, sebelumnya diarak mengelilingi desa dengan iringan kirab masyarakat tersebut. Tentu untuk menarik perhatian dalam membawakan nilai-nilai yang terkandung dalam makna mustoko tersebut, sekelompok masyarakat berdandan memakai kostum yang unik. Maka dalam perjalanannya hingga saat ini berkembang menjadi kesenian topeng ireng yang dipentaskan di suatu tempat tertentu dengan berbagai gerakan tari yang diiringi dengan musik.

Proses Kreatifitas

Topeng ireng bukan karena para pelakunya memakai kostum topeng yang berwarna ireng (hitam), namun berasal dari kata “Toto Lempeng Irama Kenceng”. Toto berarti menata, lempeng berarti lurus, irama adalah nada dan kenceng berarti keras. Oleh karena itu dalam pementasan kesenian topeng ireng, para penari berbaris lurus dan dengan diiringi oleh musik berirama keras dan penuh semangat. Tak heran jika musik yang dibawakan melalui syair-syairnya adalah ajakan menuju kebaikan yang disyiarkan oleh agama Islam, baik berbahasa jawa maupun juga perkembangannya membawakan lagu-lagu qoshidah atau sholawat berbahasa arab. Gerakan tari topeng ireng mengadopsi gerakan jurus ilmu beladiri atau pencak silat, maka sangat logis bahwa musik yang dimainkan bersifat rancak dengan bit yang cepat.

Perubahan selera masyarakat dalam menikmati jenis musik sangat mempengaruhi perkembangan kesenian kerakyatan ini. Akhir-akhir ini tumbuh musik dengan nuansa Pop-Jawa, memainkan alat-alat musik modern disertai lirik lagu berbahasa Jawa, meski tak sedikit yang memadukannya dengan nuansa dangdut koplo. Beberapa perubahannya ada pula yang memadukan dengan alat musik kendang ketipung Jawa. Musik topeng ireng yang juga menggunakan alat-alat musik tradisional seperti tepak (semacam kendang berbentuk tabung dengan salah satu ujungnya berlobang terbuka, bende (gong kecil), saron, bedug hingga seruling. Beberapa grup kesenian ada pula yang menambahkan alat musik angklung, drum hingga alat musik modern seperti gitar dan bass. Begitu pula perkembangan dalam gerakan tari dengan kelompok penari dan kombinasi gerak langkah pada saat pergantian formasi pasukan.

Memang dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ada semacam sebuah pakem lagu dan gerak tari formasi yang ditampilkan, baik lenggokan badan, gerak tangan dan kepala. Kreatifitas yang membedakan antara grup kesenian satu dengan yang lain adalah formasi kelompok tarinya. Seperti yang kita tahu bahwa tidak ada benar dan salah dalam sebuah seni. Inilah yang menjadikan kesenian kerakyatan topeng ireng selalu menjadi daya tarik para penonton untuk menikmati, bahwa setiap grup kesenian mempunyai ciri khas formasi yang berbeda-beda dan kesemuanya tetap indah. Maka setiap pementasan berbagai grup topeng ireng menjadi magnet ratusan hingga ribuan penonton, meskipun dalam satu waktu ada dua atau tiga grup yang tampil di tempat yang berbeda.

Penggugah Ekonomi

Dengan banyaknya penonton yang datang ke lokasi pementasan, mulai dari anak-anak, para kaum muda hingga bapak-bapak dan ibu-ibu, tak sulit ditebak bahwa banyak juga yang mengais rejeki dengan berjualan berbagai makanan dan minuman. Biasanya para penjaja datang jauh sebelum acara dimulai, bahkan mulai dari siang-sore hari telah tersebar di sekitar lokasi. Mereka berlomba-lomba untuk menempati tempat yang strategis agar para pengunjung dengan mudah mendatangi lapak jualan yang digelar. Tidak sedikit pedagang yang kukut duluan sebelum acara selesai, meski ada juga yang tetap menanti hingga acara pentas selesai.

Semua pedagang merupakan pelaku ekonomi usaha kecil, jadi ketika dagangan mereka habis tak tersisa dalam sepertiga malam pertama adalah sebuah rejeki yang sangat mereka syukuri. Umumnya para pelaku usaha kecil memang tidak mentarget hasil yang besar, telah tertanam di masyarakat pedesaan untuk selalu mensyukuri berapapun hasil yang didapat. Didikan tradisi dan budaya di masyarakat bahwa titik pusat perhatian mereka dalam mencari rejeki adalah usaha, bukan hasil.

Pemersatu Masyarakat

Sebuah grup kesenian topeng ireng pada umumnya lahir dalam satu wilayah kelompok masyarakat bernama dusun. Dalam satu grup kesenian biasanya terdiri dari 50 lebih personil, terdiri dari para penari, pemain musik dan para kru. Yang paling unik adalah setiap pementasan grup kesenian di dusun lain atau daerah lain, seluruh masyarakat asal grup kesenian seperti bedol desa untuk ikut mengawal grupnya. Entah itu mereka menjadi kru tidak resmi, hingga ikut menonton berbaur dengan penonton dari daerah lain. Ini adalah wujud rasa memiliki masyarakat terhadap grup keseniannya.

Sebuah pementasan kesenian menjadi bagus, indah dan kompak salah satu faktornya adalah rutinnya mereka latihan. Dan setiap grup kesenian, masyarakat di dusun tersebut juga tetap menonton prosesnya, sehingga bentuk dukungan masyarakat sangat terasa. Tak hanya itu, saat sebuah grup kesenian dibentuk tentu memerlukan berbagai alat musik, kostum dan mendatangkan pelatih tari dan musik yang membutuhkan biaya tidak sedikit, seluruh warga masyarakat tersebut dengan sukarela ikut membantu mengeluarkan iuran untuk mewujudkannya. Terkadang juga iuran yang harus dikeluarkan sifatnya adalah rutin setiap waktu tertentu.

Para pelaku kesenian rakyat ini memang kebanyakan tidak mempunyai background akademi formal di bidang seni, namun jiwa yang tertanam lambat laun tumbuh nilai-nilai luhur dalam sebuah seni. Dengan pementasan yang membutuhkan effort yang tinggi, mulai dari riasan, tenaga dan transportasi menuju lokasi pementasan, tentu tidak cukup terpenuhi oleh bayaran dari yang mengundang. Memang budaya inilah yang justru menjadi nilai lebih dari kesenian kerakyatan. Mereka melakukan kegiatan seni tanpa mengharap imbalan nilai material tertentu, bahwa bayaran dari pihak yang mengundang hanya cukup untuk biaya operasional dalam satu pementasan. Bahkan menariknya lagi adalah banyak grup kesenian yang secara sukarela menawarkan diri untuk tampil dalam sebuah acara peringatan seperti Muludan, Saparan, Tasyakuran, Khataman Al Quran dan lain sebagainya, hanya untuk ikut mangayubagyo dalam acara tersebut.

Kesenian kerakyatan semoga akan tetap menjadi seperti ini adanya, ketenaran sebuah grup kesenian tidak menjadikan mereka jumawa dan merasa lebih tinggi, lebih baik dari yang lain. Mereka tetap berkawan dan berbagi informasi maupun ilmu. Semoga pertumbuhan kesenian rakyat topeng ireng semakin memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Mengingat di wilayah Magelang sendiri, grup kesenian topeng ireng berjumlah puluhan, sepatutnya kesemuanya bisa tumbuh bersama.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *